Senin, 28 Maret 2011

Tante Diah


Siang itu sekitar pukul 1 cuaca memang agak mendung dan kebetulan aku sedang libur kerja. Aku berniat  menjemput pacarku Selvi yang tengah latihan tari jaipong di sanggar dekat sekolahnya. Entah klenapa saat itu para orang tua yang menjemput belum ada dan hanya ada seorang wanita sekitar 35 -40 tahunan duduk di kursi dekat pintu depan sanggar. Akupun mendekatinya sekedar untuk mencari teman agar tidak terlalu jenuh menunggu anakku. Tak lama akupun  memngenalnya. Namanya Diah, seorang ibu rumah tangga yang juga ketua kader di desa kami. Dia juga tengah menunngu anaknya yang bernama nissa yang rupanya teman dekat selvi.
“ngejemput sapa de?” tanyanya ramah
“selvi bu”
“pacarnya ya” penuh tawa
Aku hanya tersenyum tersipu malu. Kemudian kami mengobrol lebih banyak. Ternyata latihan tari jaipongannya masih lama dikarenakan pelatihnya baru datang. Kayaknya sekitar sejam lagi aku harus nunngu pacarku. Aku sih nggak bete bete amat soalnya ada bu Diah yang lumayan mengasikkan buat mengajak ngobrol.
“kamu kapan kawin yan?” tanyanya
“nikah maksud ibu?” tanyaku balik penuh canda
Dia pun tersenyum seraya berkata “ahh kamu kayaknya udah kawin duluan ya?”
Aku pun tertawa aja karena Bu Diah memang cukup humoris.
“jadi ceritanya kamu dah kawin nih ma selvi?” tanyanya lagi
“yah kalo kawin sih kayaknya udah” jwabku penuh senyum
“udah ga orisinil lagi dong kamu?” tanyanya lagi”
Aku hany terdiam sedikit malu. Kemudian  entah kenapa kami mulai mebahas hal-hal yang mengarah pada masalah perkawinan dan hubungan intim.
“suami ibu kerja dimana?” tanyaku basa-basi
“suami kerja di kantor kecamatan”
“emmmm...ibu gak ikut latihan jaipongan?” kataku
“ah ibu ini udah tua. Kayaknya gak pantes dengan tubuh ibu yang udah jelek kaya gini pula.” Jawabnya merendah
“ih ibu ini gimana sih. Wajah ibu masih cantik banget kaya remaja 20 tahunan.” Pujiku
“kamu ini padai merayu ya, pantas aja kamu dah kawin sebelum nikah.” Jawabnya tersenyum
“eh iya lho. Lihat aja nih tubuh ibu masih ahhh bagus banget deh. Pasti banyak lelaki yang melirik ibu.” Rayuku lagi
“masa sih ah, ibu kan udah bersuami. Jadi ya gak akan ada yang melirik ibu dong ya!”
“ah ada dong bu, kalo ibu mau ya pasti ada lah.” Kataku lagi
“selingkuh dong ibu?” jawabnya
“hhee...ya begitu kali bu??” cengengesku
Kami pun tersenyum dan kayaknya dia memang menikmati mengobrol denganku. Beberapa saat kemudian dia membenarkan sepatunya yang eksotis dan ketika dia mengelap sepatunya, roknya sedikit tersingkap dan betisnya yang putih mulus dan berisi sangat mempesonaku. Tanpa sadar aku menyentuhnya seraya berkata “tuhkan bu, betis ibu aja masih bagus kaya gini.
Dia sempat kaget dan menatapku, namun dia hanya diam dan tersenyum tipis. Akupun seperti enggan melepaskan tanganku di betisnya itu. Tebe-teiba dia berkata “eh entar selvi marah lho!”
“lebih marah mana sama suami ibu?” jawabku
Dia pun hanya tersenyum dan mul;ai melepaskan tanganku di betis mulusnya. Kemdian dia beranjak
Dan kupikir dia akan menghindar dariku karena kelakuanku padanya.
“ntar selvi marah, pindah aja yuk!” katanya
Aku heran campur senang karena dia nggak marah malah mengajakku ke tempat lain. Aku semakin berpikir aneh dan mulai keluar pikiran dan niat mesum. Kami pun beranjak menuju sebuah tempat di belakang toilet yang terdapat sebuah kursi yang sama dengan kursi depan. Sesampainya disana Bu Diah tiba-tiba menungging dan menyingkapkan roknya keatas sehinnga terlihat pantat bahenolnya yang terbungkus celana dalam warna merah. Aku kaget dan seketika kontolku terbangun dan mengeras sekali.
“yan, kalo emang bener tubuh ibu bagus, coba ibu pengen bukti dari kamu.” Katanya
Akupun langsung mebuka celanaku dan


**************bersambung************

1 komentar:

  1. janag di bersambungin gini dong,ah bikin gw narik nafas tau!

    BalasHapus